Siapa “Tuhan” Itu?

17 May

Percakapan saya siang ini dengan seorang teman memberikan renungan tersendiri. Memang, saya tergolong tipe yang “nyantai” jika menghadapi orang-orang dengan pandangan yang berbeda tentang keyakinan terhadap Tuhan. Saya tidak pernah memaksakan pemahaman saya dan menghargai sepenuhnya pemahaman mereka. Sering saya bertemu teman-teman yang menganggap konsep tentang Tuhan hanya karangan manusia yang putus asa saja. Atau teman-teman yang percaya adanya Tuhan, tapi yang dia tahu tentang Tuhan semata-mata hanya sosok yang harus dipuja dan puji karena itulah yang dilakukan orang tuanya, nenek moyangnya, para pendahulunya. Atau ada juga yang percaya ada pribadi yang jauh lebih besar dari manusia, yang mengatur hidup manusia, yang mengatur dunia, pribadi yang mulia dan berkuasa, tapi bahkan dia hanya menyebutnya tuhan, tanpa mengenal siapa dan apa tuhan yang dia maksudkan.

Semua teori dan pemahaman ini cukup membuat saya memikirkan tentang tuhan sejak realita kehidupan yang saya hadapi bukan sekedar bagaimana mendapatkan nilai baik di raport sekolah. Saat saya mulai menyadari bahwa hidup terdiri dari banyak benturan antar individu dan kepentingan. Benturan yang menyebabkan konflik. Ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang beruntung, ada yang malang. Dan yang dilakukan setiap orang adalah berkompetisi untuk menjadi yang menang, yang kaya, yang beruntung.

Saya banyak merenung tentang dua hal besar ini. Tentang tuhan. Dan tentang hidup. Teori-teori dan studi literatur tidak banyak membantu. Justru semakin memperbesar kekosongan di dalam hati dan logika saya.

Sementara saya banyak merenung, dunia tetap berputar dan realita-realita baru terus bermunculan. Realita yang muncul seringkali terasa pahit. Sampai saya memikirkan, apalah hidup ini kalau harus terus merasakan pahit saja. Mungkin sebaiknya hidup tidak perlu ada. Ketiadaan hidup dalam keberadaan ini mungkin bisa meringankan beban sang pencipta jagat raya.

Mungkin saya terlalu sibuk berkompetisi dalam arena pertandingan demi mencapai kenyamanan. Sibuk mengurusi konflik-konflik. Sibuk mengurusi sakit hati. Sibuk mengurusi kegagalan. Sibuk mengurusi rasa kesepian. Sibuk mengurusi rasa mengasihani diri sendiri. Sampai-sampai saya tidak menyadari kenyataan bahwa saya sudah terus berjalan maju. KOnflik yang terselesaikan. Sakit hati yang akhirnya terlupakan. Kegagalan yang sudah berubah jadi kesuksesan gilang gemilang. Hebat sekali saya bisa melewati ini semua.

Saya?? Saya sendiri yang melewati ini?? Melewati sakit hati? Melewati konflik demi konflik? Melewati kegagalan?
Wow! Saya memang hebat!

Sayangnya, jauh di lubuk hati saya, saya menyadari kalau saya terlalu lemah untuk melewatinya seorang diri.

Teman? Keluarga?

Kenyataan pahit yang harus saya terima selanjutnya adalah orang-orang di sekitar saya pun hanya manusia biasa yang juga terlalu lemah untuk bisa membantu saya melewatinya.

Inilah titik dimana saya akhirnya menyadari bahwa manusia tidak hidup sendirian, dengan strategi-strategi mereka yang luar biasa, di dunia yang luas ini. Ada campur tangan pihak lain yang memiliki kuasa lebih besar dan lebih luas. Pihak lain yang akhirnya saya kenal sebagai Raja atas hidup saya.

Mungkin inilah yang mereka-mereka sebut dengan Tuhan. Entahlah! Kata “Tuhan” terlalu abstrak karena semua orang punya teori. Dan Tuhan seperti sosok yang tidak pernah ada di bumi. Tapi saya suka kata “Raja”. Pemimpin. Penguasa. Dia penuh kemuliaan. Dia kaya raya.

Saya mulai memanggilnya dalam lamunan-lamunan saya. Dalam perbincangan khayalan dengan sang Raja. Dan setiap saya melamunkan bahwa saya bersamaNya. Saya merasa aman. Merasa utuh sebagai manusia. Merasa dikasihi. Dia bukan Raja yang hanya tahu mengatur saja. Dia Raja yang tahu persis bagaimana memberi ketenangan. Ini yang membuat saya semakin menikmati lamunan saya denganNya.

Maka saya mengenalNya sebagai Raja yang memiliki kasih sebesar kasih seorang Bapa kepada anakNya.

Saya menangis bersamaNya. Saya merasa hancur di hadapanNya. Atas niat jahat yang sering hadir di pikiran dan hati saya. Merasakan penyesalan yang dalam atas kelemahan saya mengalahkan niat jahat yang akhirnya berwujud dalam tindakan saya yang tidak terpuji. Dan inilah kekuatan kasih yang tidak seorang manusia pun mampu berikan. Saya bangkit dari lamunan-lamnunan saya dan memperoleh kekuatan untuk menghadapi kepahitan dan trauma karena sang Raja berjanji akan mengubahnya menjadi sukacita.

Mungkin benar bahwa konsep Tuhan hanya untuk mereka yang sudah putus asa. Tapi saya tidak peduli. Saya akhirnya menemukanNya, menemukan seorang Raja dengan kasih seperti seorang Bapa, dan itulah konsep Tuhan untuk saya. Saya merasa sang Raja memenuhi kekosongan di hati saya, di logika saya. Mungkin saya gila. Saya juga tidak tahu.

Kenyataan pahit berikutnya adalah saya tidak pernah berusaha untuk menemukanNya. Saya memang mempertanyakan eksistensinya, tapi bahkan tidak terlalu peduli jika pun Dia benar-benar ada. Tapi Dia yang terus berusaha menyadarkan saya bahwa Dia ada dalam hidup saya. Hal-hal buruk yang diubah jadi baik adalah bukti nyata. Dan itu semua terlalu nyata untuk saya.

Tulisan ini bisa saja membuat yang membaca semakin bingung dan bahkan menimbulkan kontroversi. Tulisan ini bisa saja tidak membantu siapa pun yang membaca untuk menemukan sang Raja dengan kasih sebesar seorang Bapa itu. Tapi Dia benar-benar ada. Kamu hanya perlu merendahkan diri dan melihatNya dengan mata iman. Dia nyata di hidup saya. Dia nyata di tiap lamunan saya. Dia nyata mengisi kekosongan hati dan logika saya.

“He is real! He is not just in my imagination or not just someone I don’t know who always I call in my prayer. I know Him and He knows me more. He cares also. How can I not love Him more?”

Allah yang Setia

7 Jan

Sekarang ku memuji-Mu, Allah yang setia. Allah yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Sekarang ku menyembah-Mu, Allah yang mulia. Ya Allah, sempurnakan segenap hidupku agar menjadi indah bagi-Mu.

Engkau adalah pribadi yang Setia! Hanya itu kekuatanku saat ini.

2 Timotius 2:13.

Allah Pasti Mencukupkan

23 Jul

Sore ini aku tertidur di ruang utama. Sebelum mimpi-mimpi itu membawaku lebih jauh, aku terbangun tiba-tiba dengan kehadiran seseorang di ambang pintu. Lagi-lagi aku tidak mengunci pintu saat mau tidur. Mataku buram dan perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan sinar yang ada. Pikiranku yang mengambang entah kemana berlari-lari kecil untuk mengkonvergenkan diri kembali.

“Oh, Kakak…”

Dia adalah seorang kenalan di Gereja yang pernah berencana untuk mengontrak di rumah tempat aku tinggal saat ini, setelah aku dan temanku lulus nanti. Mari kita sebut dia, Kak Lina.

Kakak ini datang dengan maksud untuk bernego dengan kami masalah tinggal di rumah ini. Aku dan temanku memang memutuskan untuk meninggalkan rumah ini di bulan Januari 2010. Berarti terhitung mulai bulan Juli tahun ini, kami hanya akan membayar kontrakan rumah selama 6 bulan saja.

Kakak ini mengajukan ide untuk tetap mengontrak selama satu tahun. Enam bulan pertama untuk kami dan enam bulan kemudian akan ditempati dia dan suaminya. Kami sepakat, waktu itu, kira-kira satu bulan yang lalu.

Aku dan temanku sudah bernegosiasi dengan pemilik rumah mengenai biaya kontrak. Dan akhirnya kami sudah deal dengan harga yang disepakati untuk satu tahun ke depan. Pembayaran akan dilakukan akhir bulan Juli dengan tunai. Setengah dibayar aku dan temanku, setengah lagi dibayar Kak Lina dan suami.

Tapi sore ini, Kak Lina datang dengan suatu masalah. Dia bercerita kepadaku, yang masih bingung karena baru saja terbangun dari tidur siang yang kurang menyenangkan ini, mengenai kondisi keuangannya yang sedang susah. Dia harus terapi saraf, kakaknya membutuhkan uang untuk pembuatan sumur di rumahnya di daerah Sumatera sana, dan nasabah di asuransi tempatnya bekerja belum juga memberikan bayaran. Kakak ini tetap ingin melanjutkan kontrakan rumah ini untuk enam bulan sisanya. Namun ia tidak memiliki cukup uang saat ini untuk bisa membayar biaya yang seharusnya kami serahkan di akhir Juli nanti. Dia hanya mampu membayar sepertiganya. Sisanya, yang dua per tiga lagi, akan dia cicil selama dua bulan kemudian. Tapi apa boleh buat, aku dan temanku tidak punya cukup uang untuk membantunya. Kami bahkan tidak tega meminjam uang orang tua kami karena kami pun harus membayar uang kuliah.

Hati saya sakit. Kalau uang, saya tidak bisa membantu apa-apa. Apalagi saya melihat Kak Lina meninggalkan rumah tadi dengan muka lemas dan tidak bersemangat lagi. Saya sedih karena tidak bisa melakukan sesuatu. Ya Tuhan, kenapa kau tidak perlengkapi aku dengan sesuatu yang bisa membantu Kak Lina untuk meringankan bebannya?

Kembali lagi aku mengalami kekuatiran. Kuatir akan keluarga yang akan kubangun nanti. Apa kami akan berkecukupan? Apa kami akan hidup sulit? Apa kami perlu menjual harta benda untuk bisa memenuhi kebutuhan dari hari ini ke hari selanjutnya? Apa kami perlu berhutang untuk bisa tetap menyekolahkan anak-anak kami nanti? Ya Bapa, kenapa aku harus kuatir tentang materi? Sulit sekali untuk tetap beriman di dunia yang terlihat kejam ini. Di dunia yang terus menuntutku untuk menjadi realistis dan berhati dingin.

Sore ini, beberapa jam setelah Kak Lina meninggalkan rumah kami. Aku membaca buku favoritku, kitab Bapaku, mengenai perkara-perkara besar yang sudah Allah lakukan akan orang-orang pilihanNya. Dan aku memperoleh kekuatan dari 1 Tawarikh 17:27. Suatu doa yang dipanjatkan Daud, salah satu orang pilihan Allah.

“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.”

Aku berdoa saat ini ya Allah, biar Engkau yang hapuskan segala kekuatiranku ini karena berkat itu datang dari Mu. Berkat untuk keluargaku saat ini dan keluargaku di masa depan. Dan apakah yang perlu aku kuatirkan? Karena Kau adalah seorang Bapa yang sayang kepada anak-anakNya, kepadaku. Dan aku mau belajar beriman di tengah-tengah dunia yang sulit ini, kalau Engkau Allah yang akan terus memberkati dan mencukupkan aku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Ketuhanan Kristus

14 Jun

Baru kali ini saya mengisi buku PA sampai keluar air mata, menarik nafas panjang berkali-kali, sambil terus mempertanyakan, “Kemana aja selama ini Dwi?” Sudah empat adik rohani yang Allah percayakan. Sudah selama tiga tahun ini saya menjadi mentor di Penerimaan Mahasiswa Baru, konselor di perayaan Paskah dan Natal. Dan saya baru betul-betul memahami tentang Ketuhanan Kristus. How stupid I am!!

Dan baru kali ini juga saya memahami apa yang dimaksud “Hidup adalah Kristus.”

Yesuslah Tuhan. Yesuslah Kristus. Kristus lah hidup itu sendiri. Dialah pusat dari segalanya di alam semesta ini. Dia lah Guru. Raja segala raja. Tuan segala tuan. Pencipta. Hakim, Superior! Dia lah yang disebut dengan MAHA…

Di bagian “Akui Ketuhanannya Dengan Keputusan Anda” terdapat bahan perenungan sebagai berikut.

Berilah tanda untuk hal-hal di bawah ini yang berlaku bagi Anda. Dan inilah hal-hal yang masih sering saya pikir dan rasakan,

  • bahwa Yesus tidak benar-benar mengerti persoalan saya
  • bahwa Yesus mungkin menghendaki agar saya melakukan sesuatu yang tidak dapat saya kerjakan
  • bahwa Yesus mungkin menghendaki agar saya memegang suatu karier yang tidak dapat saya nikmati
  • bahwa Yesus akan menghalangi saya untuk menikah
  • bahwa Ia akan merampas kesenangan saya untuk menikmati milik, kegemaran, atau hubungan dengan teman-teman

Kemudian ada beberapa pernyataan yang dipakai untuk memeriksa hati saya. Dan inilah hal-hal yang masih berlaku pada saya.

  • saya tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang terbaik untuk saya.
  • saya masih tidak yakin apakah Yesus sedang mengusahakan yang terbaik untuk saya
  • saya curiga bahwa Yesus meminta saya melakukan apa yang saya tidak inginkan
  • saya akan menyerahkan bidang-bidang kehidupan saya pada Yesus kecuali bidang tertentu
  • saya kuatir jika saya membuat penyerahan maka Yesus akan mengambil semua yang ada pada saya

Betapa banyak kekuatiran saya akan hidup ini. Setelah begitu banyak janji-janji Allah yang saya renungkan, ternyata masih saja ada rasa takut kalau saya akan menemukan kegagalan dan kesedihan di depan sana. Dan baru kali ini Yeremia 29:11 terdengar sangat nyaring dan bergema sampai ke hati saya. Bahwa rancangan yang Allah sediakan adalah damai sejahtera BUKAN kecelakaan untuk memberikan kepadaku hari depan yang penuh harapan.

Kemudian saya sampai ke bagian dimana saya harus mempertimbangkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Siapa yang dengan sempurna mengetahui yang terbaik untuk hidup anda?
  • Siapa yang paling mampu melakukan yang terbaik untuk hidup anda?
  • Siapa yang sungguh-sungguh selalu menghendaki yang terbaik bagi hidup anda?

Dan jawabannya cuma satu, yaitu Yesus. BUKAN saya.

Dan yang harus saya lakukan saat ini adalah bertekuk lutut di hadapanNya dan menyerahkan seluruh rencana, masalah, dan beban hidup saya dalam tanganNya. Dia sedang mengusahakan yang terbaik untuk saya. Jadi bersiaplah untuk perkara yang lebih besar, Dwi! Karena kamu berurusan dengan Tuhan.

Pelajaran dari Yeremia 31

29 May

Yeremia 31  merupakan satu pasal yang kami bahas dalam acara SBT hari Minggu, 24 Mei 2009 kemarin. Kami mengawali SBT ini dengan berdoa, bernyanyi, dan menaikkan syukur bagi Allah. Atas kehidupan kami. Dan segala sesuatu yang Allah biarkan terjadi untuk membuat kami semakin melekat padaNya.

Kemudian kami merenungkan Yeremia 31 sendiri-sendiri. Saya mencatat beberapa janji Tuhan yang diberikan di pasal ini.

  1. Tuhan akan menjadi Allah kaum keluargaku dan aku akan menjadi umatNya.
  2. Tuhan akan mengasihiku dengan kasih yang kekal.
  3. Aku akan memetik hasil dari setiap usahaku.
  4. Tuhan akan menyelamatkanku.
  5. Tuhan akan menghiburkan aku saat aku datang dalam tangisan.
  6. Tuhan akan memimpin jalanku.
  7. Aku akan berseri-seri dan dikenyangkan dengan kebajikan Allah.
  8. Aku akan dicukupkan.
  9. Aku akan bersukaria.
  10. Ada harapan untuk hari depanku.

Saat ini aku masih bergumul tentang keluargaku dan aku sangat bersyukur untuk janjiNya akan membuat kaum keluargaku percaya. Namun aku seringkali lelah dan ingin menyerah karena aku tidak melihat pekerjaan Tuhan disana. Aku sempat berpikir, kemana perginya doa-doa yang kupanjatkan siang dan malam itu? Apakah hanya jadi bisikan harapan yang kemudian menyatu dengan hiruk pikuk dunia dan menjadi tak bermakna lagi. Tapi disini Allah berjanji kalau Ia akan membuatku memetik hasil dari usahaku. Tidak ada doaku yang sia-sia. Aku percaya Allah sudah mengatur segala sesuatunya dan menetapkan waktu terbaik bagiku. Dan bagi keluargaku.

Aku pun masih sering kuatir dengan masa depanku. Aku tidak tahu mau jadi apa aku nanti bahkan di usia ku kini yang sudah mencapai 22 tahun. Terlalu banyak ketakutan akan masa depanku. Tentang pernikahan. Tentang kondisi ekonomi. Tentang karirku. Tentang keluargaku. Tentang anak-anakku. Note : keinginanku untuk punya anak lebih besar dibandingkan dengan keinginanku untuk punya pacar. Tapi keinginan yang besar ini justru memberikan ketakutannya sendiri. Ya.. aku takut sekali tidak bisa punya anak. Tapi kemudian Allah mengatakan bahwa aku akan dicukupkan dan akan bersukaria. Bahwa akan ada harapan untuk hari depanku. Dan bila aku putus asa dan (lagi-lagi) datang dalam tangisan, Allah yang akan menghiburku.

Kemudian aku mencatat tentang siapa aku di mata Allah dari Yeremia 31 ini. Dan ini hasil penemuanku yang luar biasa. Aku mengambil dari ayat 23 yang isinya demikian, “Tuhan kiranya memberkati engkau, hai tempat kediaman kebenaran, hai gunung yang kudus!”

Yup. Aku adalah tempat kediaman kebenaran dan gunung yang kudus. Tempat dimana akan ada kota-kota, petani-petani, dan orang-orang yang mengembara dengan kawanan ternaknya. Aku akan menjadi alat Tuhan untuk membuat segar orang yang lelah, dan memuaskan setiap orang yang merana. Serupa dengan Yesaya 58 yang aku renungkan. Aku adalah individu yang harus dapat diandalkan oleh orang lain. Aku adalah individu yang akan menjadi alat Tuhan untuk memberikan harapan kepada orang lain. Aku harus menjadi tempat bernaung bagi jiwa-jiwa yang haus akan Allah dan terus mencari Allah. Dan aku harus menjadi teladan di dalam Kristus.

SBT berakhir dalam waktu empat jam dan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Hari yang menyenangkan bersama Allah dan teman-teman yang memiliki kerinduan yang besar akan Allah.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.