Percakapan saya siang ini dengan seorang teman memberikan renungan tersendiri. Memang, saya tergolong tipe yang “nyantai” jika menghadapi orang-orang dengan pandangan yang berbeda tentang keyakinan terhadap Tuhan. Saya tidak pernah memaksakan pemahaman saya dan menghargai sepenuhnya pemahaman mereka. Sering saya bertemu teman-teman yang menganggap konsep tentang Tuhan hanya karangan manusia yang putus asa saja. Atau teman-teman yang percaya adanya Tuhan, tapi yang dia tahu tentang Tuhan semata-mata hanya sosok yang harus dipuja dan puji karena itulah yang dilakukan orang tuanya, nenek moyangnya, para pendahulunya. Atau ada juga yang percaya ada pribadi yang jauh lebih besar dari manusia, yang mengatur hidup manusia, yang mengatur dunia, pribadi yang mulia dan berkuasa, tapi bahkan dia hanya menyebutnya tuhan, tanpa mengenal siapa dan apa tuhan yang dia maksudkan.
Semua teori dan pemahaman ini cukup membuat saya memikirkan tentang tuhan sejak realita kehidupan yang saya hadapi bukan sekedar bagaimana mendapatkan nilai baik di raport sekolah. Saat saya mulai menyadari bahwa hidup terdiri dari banyak benturan antar individu dan kepentingan. Benturan yang menyebabkan konflik. Ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang beruntung, ada yang malang. Dan yang dilakukan setiap orang adalah berkompetisi untuk menjadi yang menang, yang kaya, yang beruntung.
Saya banyak merenung tentang dua hal besar ini. Tentang tuhan. Dan tentang hidup. Teori-teori dan studi literatur tidak banyak membantu. Justru semakin memperbesar kekosongan di dalam hati dan logika saya.
Sementara saya banyak merenung, dunia tetap berputar dan realita-realita baru terus bermunculan. Realita yang muncul seringkali terasa pahit. Sampai saya memikirkan, apalah hidup ini kalau harus terus merasakan pahit saja. Mungkin sebaiknya hidup tidak perlu ada. Ketiadaan hidup dalam keberadaan ini mungkin bisa meringankan beban sang pencipta jagat raya.
Mungkin saya terlalu sibuk berkompetisi dalam arena pertandingan demi mencapai kenyamanan. Sibuk mengurusi konflik-konflik. Sibuk mengurusi sakit hati. Sibuk mengurusi kegagalan. Sibuk mengurusi rasa kesepian. Sibuk mengurusi rasa mengasihani diri sendiri. Sampai-sampai saya tidak menyadari kenyataan bahwa saya sudah terus berjalan maju. KOnflik yang terselesaikan. Sakit hati yang akhirnya terlupakan. Kegagalan yang sudah berubah jadi kesuksesan gilang gemilang. Hebat sekali saya bisa melewati ini semua.
Saya?? Saya sendiri yang melewati ini?? Melewati sakit hati? Melewati konflik demi konflik? Melewati kegagalan?
Wow! Saya memang hebat!
Sayangnya, jauh di lubuk hati saya, saya menyadari kalau saya terlalu lemah untuk melewatinya seorang diri.
Teman? Keluarga?
Kenyataan pahit yang harus saya terima selanjutnya adalah orang-orang di sekitar saya pun hanya manusia biasa yang juga terlalu lemah untuk bisa membantu saya melewatinya.
Inilah titik dimana saya akhirnya menyadari bahwa manusia tidak hidup sendirian, dengan strategi-strategi mereka yang luar biasa, di dunia yang luas ini. Ada campur tangan pihak lain yang memiliki kuasa lebih besar dan lebih luas. Pihak lain yang akhirnya saya kenal sebagai Raja atas hidup saya.
Mungkin inilah yang mereka-mereka sebut dengan Tuhan. Entahlah! Kata “Tuhan” terlalu abstrak karena semua orang punya teori. Dan Tuhan seperti sosok yang tidak pernah ada di bumi. Tapi saya suka kata “Raja”. Pemimpin. Penguasa. Dia penuh kemuliaan. Dia kaya raya.
Saya mulai memanggilnya dalam lamunan-lamunan saya. Dalam perbincangan khayalan dengan sang Raja. Dan setiap saya melamunkan bahwa saya bersamaNya. Saya merasa aman. Merasa utuh sebagai manusia. Merasa dikasihi. Dia bukan Raja yang hanya tahu mengatur saja. Dia Raja yang tahu persis bagaimana memberi ketenangan. Ini yang membuat saya semakin menikmati lamunan saya denganNya.
Maka saya mengenalNya sebagai Raja yang memiliki kasih sebesar kasih seorang Bapa kepada anakNya.
Saya menangis bersamaNya. Saya merasa hancur di hadapanNya. Atas niat jahat yang sering hadir di pikiran dan hati saya. Merasakan penyesalan yang dalam atas kelemahan saya mengalahkan niat jahat yang akhirnya berwujud dalam tindakan saya yang tidak terpuji. Dan inilah kekuatan kasih yang tidak seorang manusia pun mampu berikan. Saya bangkit dari lamunan-lamnunan saya dan memperoleh kekuatan untuk menghadapi kepahitan dan trauma karena sang Raja berjanji akan mengubahnya menjadi sukacita.
Mungkin benar bahwa konsep Tuhan hanya untuk mereka yang sudah putus asa. Tapi saya tidak peduli. Saya akhirnya menemukanNya, menemukan seorang Raja dengan kasih seperti seorang Bapa, dan itulah konsep Tuhan untuk saya. Saya merasa sang Raja memenuhi kekosongan di hati saya, di logika saya. Mungkin saya gila. Saya juga tidak tahu.
Kenyataan pahit berikutnya adalah saya tidak pernah berusaha untuk menemukanNya. Saya memang mempertanyakan eksistensinya, tapi bahkan tidak terlalu peduli jika pun Dia benar-benar ada. Tapi Dia yang terus berusaha menyadarkan saya bahwa Dia ada dalam hidup saya. Hal-hal buruk yang diubah jadi baik adalah bukti nyata. Dan itu semua terlalu nyata untuk saya.
Tulisan ini bisa saja membuat yang membaca semakin bingung dan bahkan menimbulkan kontroversi. Tulisan ini bisa saja tidak membantu siapa pun yang membaca untuk menemukan sang Raja dengan kasih sebesar seorang Bapa itu. Tapi Dia benar-benar ada. Kamu hanya perlu merendahkan diri dan melihatNya dengan mata iman. Dia nyata di hidup saya. Dia nyata di tiap lamunan saya. Dia nyata mengisi kekosongan hati dan logika saya.
“He is real! He is not just in my imagination or not just someone I don’t know who always I call in my prayer. I know Him and He knows me more. He cares also. How can I not love Him more?”
Recent Comments