Saya suka sekali dengan ayat ini yang terus menemani hari-hari saya,
“Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” Yesaya 58:11
Awalnya saya selalu senang dengan doa yang diucapkan pembimbing rohaniku, Kak Ester, tentang bagaimana kami seharusnya menjadi BERKAT bagi orang-orang sekitar kami. Menjadi berkat berarti menjadi TERANG dan GARAM.
Dan sejak saat itu, saya selalu berdoa agar hidup saya menjadi BERKAT. Lewat kata-kata. Perilaku. Kerja keras. Sukses dan gagal. Bahkan harta.
Tapi berkat yang seperti apa? Hidup seperti apa yang bisa memberkati?
Ayat demi ayat berlalu begitu saja dan membiarkanku menelaah sendiri definisi berkat yang Allah inginkan dalam hidupku. Kemudian aku membuka dan membaca Yesaya 58. Bicara tentang BERPUASA. Dan akhirnya saya memperoleh definisi berkat itu, definisi tentang menjadi TERANG.
Ayat 6, “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,
Ayat 7, “supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
Ayat 8, “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar…
Ayat 9, “… Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,”
Ayat 10, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan ahti orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
Menjadi terang atau menjadi berkat buatku adalah kepedulian yang tinggi terhadap sesama, tidak menghakimi, tidak egois, dan menyenangkan orang lain.
Kepedulian terhadap sesama dimulai dari kepekaan akan kondisi orang-orang di sekitar kita. Orang yang lapar. Orang miskin yang tak punya rumah. Orang telanjang. Dan banyak sekali orang-orang seperti ini di sekitar kita.
Lapar kebenaran. Selalu kuatir dan ketakutan karena tidak tahu mau meminta perlindungan kemana. Malu akan diri sendiri aka minder. Mereka lah alasan aku diutus Allahku di dunia ini. Supaya aku memerdekakan mereka dari kondisi seperti itu. Kemudian DO SOMETHING! Bukan hanya sampai kepada kepekaan semata dan berakhir dalam doa di malam hari. Tapi berikan solusi. Lewat tindakan-tindakan nyata supaya akhirnya Injil dapat disampaikan. Inilah yang harus dilakukan untuk menjadi berkat. Terangmu akan merekah seperti fajar. Manusia mana tidak terpukau dengan momen matahari terbit? Ya, kita akan menjadi seindah matahari terbit itu.
Tidak menghakimi dan tidak menuduh, terutama untuk aku yang seringkali terlalu cepat ambil kesimpulan. Dalam hal ini aku belajar untuk lebih banyak mendengar daripada bicara. Supaya aku punya banyak fakta dan mengerti pasti kondisi yang ada baru kemudian aku tahu kata yang tepat untuk diucapkan. Berat memang karena lidah ini tak bertulang. Dan jika aku menang dari perkara ini, aku telah menang terhadap mulutku.Karena ternyata yang aku pahami kemudian adalah, mulut yang berhikmatlah yang akan memberkati.
Terakhir adalah tidak egois. Sewaktu kecil, saat aku mau memberikan kado untuk teman yang berulang tahun, aku selalu diajarkan untuk memberikan barang yang sedang ingin aku miliki. Orang tuaku bilang itu namanya memberikan yang terbaik. Tidak egois disini lebih menekankan pada menahan nafsu sendiri dan tidak mementingkan keuntungan diri sendiri. Fokus bukan pada keinginan sendiri tapi pada kebutuhan orang lain.
Menyenangkan orang lain merepresentasikan maksud dari memuaskan hati orang yang tertindas. Inilah letak empati diperlukan. Be a shoulder to cry on. Be humorist. Be solution. Be a friend to anyone who need you.
Maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Kegelapan yang besar itu akan dikalahkan oleh seorang aku yang lemah ini. Jadi, mari kita berpuasa!
Lalu apa dayaku, orang yang lemah ini?
Mengapa aku yang harus sebegitu peduli dengan orang-orang ini?
Aku juga manusia yang perlu untuk dipedulikan dan diperhatikan.
Inilah kekuatan dari Yesaya 58:11. Allahku berjanji kepadaku untuk membuatku menjadi taman yang diairi dengan baik dan mata air yang tidak pernah mengecewakan.
Allah sudah berjanji menjadi Pribadi yang akan selalu menuntunku, memuaskan hatiku, dan membaharui kekuatanku. Ya, karena Dia lah kekasih jiwaku
dan memilikiNya dalam hidupku sudah cukup. Dan ayat 12 menunjukkan bahwa aku akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus, yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.” Allah menginginkan aku menjadi solusi bagi orang lain dan menjadi individu yang tidak pernah mengecewakan.