Feeds:
Posts
Comments

Allah yang Setia

Sekarang ku memuji-Mu, Allah yang setia. Allah yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Sekarang ku menyembah-Mu, Allah yang mulia. Ya Allah, sempurnakan segenap hidupku agar menjadi indah bagi-Mu.

Engkau adalah pribadi yang Setia! Hanya itu kekuatanku saat ini.

2 Timotius 2:13.

Sore ini aku tertidur di ruang utama. Sebelum mimpi-mimpi itu membawaku lebih jauh, aku terbangun tiba-tiba dengan kehadiran seseorang di ambang pintu. Lagi-lagi aku tidak mengunci pintu saat mau tidur. Mataku buram dan perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan sinar yang ada. Pikiranku yang mengambang entah kemana berlari-lari kecil untuk mengkonvergenkan diri kembali.

“Oh, Kakak…”

Dia adalah seorang kenalan di Gereja yang pernah berencana untuk mengontrak di rumah tempat aku tinggal saat ini, setelah aku dan temanku lulus nanti. Mari kita sebut dia, Kak Lina.

Kakak ini datang dengan maksud untuk bernego dengan kami masalah tinggal di rumah ini. Aku dan temanku memang memutuskan untuk meninggalkan rumah ini di bulan Januari 2010. Berarti terhitung mulai bulan Juli tahun ini, kami hanya akan membayar kontrakan rumah selama 6 bulan saja.

Kakak ini mengajukan ide untuk tetap mengontrak selama satu tahun. Enam bulan pertama untuk kami dan enam bulan kemudian akan ditempati dia dan suaminya. Kami sepakat, waktu itu, kira-kira satu bulan yang lalu.

Aku dan temanku sudah bernegosiasi dengan pemilik rumah mengenai biaya kontrak. Dan akhirnya kami sudah deal dengan harga yang disepakati untuk satu tahun ke depan. Pembayaran akan dilakukan akhir bulan Juli dengan tunai. Setengah dibayar aku dan temanku, setengah lagi dibayar Kak Lina dan suami.

Tapi sore ini, Kak Lina datang dengan suatu masalah. Dia bercerita kepadaku, yang masih bingung karena baru saja terbangun dari tidur siang yang kurang menyenangkan ini, mengenai kondisi keuangannya yang sedang susah. Dia harus terapi saraf, kakaknya membutuhkan uang untuk pembuatan sumur di rumahnya di daerah Sumatera sana, dan nasabah di asuransi tempatnya bekerja belum juga memberikan bayaran. Kakak ini tetap ingin melanjutkan kontrakan rumah ini untuk enam bulan sisanya. Namun ia tidak memiliki cukup uang saat ini untuk bisa membayar biaya yang seharusnya kami serahkan di akhir Juli nanti. Dia hanya mampu membayar sepertiganya. Sisanya, yang dua per tiga lagi, akan dia cicil selama dua bulan kemudian. Tapi apa boleh buat, aku dan temanku tidak punya cukup uang untuk membantunya. Kami bahkan tidak tega meminjam uang orang tua kami karena kami pun harus membayar uang kuliah.

Hati saya sakit. Kalau uang, saya tidak bisa membantu apa-apa. Apalagi saya melihat Kak Lina meninggalkan rumah tadi dengan muka lemas dan tidak bersemangat lagi. Saya sedih karena tidak bisa melakukan sesuatu. Ya Tuhan, kenapa kau tidak perlengkapi aku dengan sesuatu yang bisa membantu Kak Lina untuk meringankan bebannya?

Kembali lagi aku mengalami kekuatiran. Kuatir akan keluarga yang akan kubangun nanti. Apa kami akan berkecukupan? Apa kami akan hidup sulit? Apa kami perlu menjual harta benda untuk bisa memenuhi kebutuhan dari hari ini ke hari selanjutnya? Apa kami perlu berhutang untuk bisa tetap menyekolahkan anak-anak kami nanti? Ya Bapa, kenapa aku harus kuatir tentang materi? Sulit sekali untuk tetap beriman di dunia yang terlihat kejam ini. Di dunia yang terus menuntutku untuk menjadi realistis dan berhati dingin.

Sore ini, beberapa jam setelah Kak Lina meninggalkan rumah kami. Aku membaca buku favoritku, kitab Bapaku, mengenai perkara-perkara besar yang sudah Allah lakukan akan orang-orang pilihanNya. Dan aku memperoleh kekuatan dari 1 Tawarikh 17:27. Suatu doa yang dipanjatkan Daud, salah satu orang pilihan Allah.

“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.”

Aku berdoa saat ini ya Allah, biar Engkau yang hapuskan segala kekuatiranku ini karena berkat itu datang dari Mu. Berkat untuk keluargaku saat ini dan keluargaku di masa depan. Dan apakah yang perlu aku kuatirkan? Karena Kau adalah seorang Bapa yang sayang kepada anak-anakNya, kepadaku. Dan aku mau belajar beriman di tengah-tengah dunia yang sulit ini, kalau Engkau Allah yang akan terus memberkati dan mencukupkan aku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Ketuhanan Kristus

Baru kali ini saya mengisi buku PA sampai keluar air mata, menarik nafas panjang berkali-kali, sambil terus mempertanyakan, “Kemana aja selama ini Dwi?” Sudah empat adik rohani yang Allah percayakan. Sudah selama tiga tahun ini saya menjadi mentor di Penerimaan Mahasiswa Baru, konselor di perayaan Paskah dan Natal. Dan saya baru betul-betul memahami tentang Ketuhanan Kristus. How stupid I am!!

Dan baru kali ini juga saya memahami apa yang dimaksud “Hidup adalah Kristus.”

Yesuslah Tuhan. Yesuslah Kristus. Kristus lah hidup itu sendiri. Dialah pusat dari segalanya di alam semesta ini. Dia lah Guru. Raja segala raja. Tuan segala tuan. Pencipta. Hakim, Superior! Dia lah yang disebut dengan MAHA…

Di bagian “Akui Ketuhanannya Dengan Keputusan Anda” terdapat bahan perenungan sebagai berikut.

Berilah tanda untuk hal-hal di bawah ini yang berlaku bagi Anda. Dan inilah hal-hal yang masih sering saya pikir dan rasakan,

  • bahwa Yesus tidak benar-benar mengerti persoalan saya
  • bahwa Yesus mungkin menghendaki agar saya melakukan sesuatu yang tidak dapat saya kerjakan
  • bahwa Yesus mungkin menghendaki agar saya memegang suatu karier yang tidak dapat saya nikmati
  • bahwa Yesus akan menghalangi saya untuk menikah
  • bahwa Ia akan merampas kesenangan saya untuk menikmati milik, kegemaran, atau hubungan dengan teman-teman

Kemudian ada beberapa pernyataan yang dipakai untuk memeriksa hati saya. Dan inilah hal-hal yang masih berlaku pada saya.

  • saya tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang terbaik untuk saya.
  • saya masih tidak yakin apakah Yesus sedang mengusahakan yang terbaik untuk saya
  • saya curiga bahwa Yesus meminta saya melakukan apa yang saya tidak inginkan
  • saya akan menyerahkan bidang-bidang kehidupan saya pada Yesus kecuali bidang tertentu
  • saya kuatir jika saya membuat penyerahan maka Yesus akan mengambil semua yang ada pada saya

Betapa banyak kekuatiran saya akan hidup ini. Setelah begitu banyak janji-janji Allah yang saya renungkan, ternyata masih saja ada rasa takut kalau saya akan menemukan kegagalan dan kesedihan di depan sana. Dan baru kali ini Yeremia 29:11 terdengar sangat nyaring dan bergema sampai ke hati saya. Bahwa rancangan yang Allah sediakan adalah damai sejahtera BUKAN kecelakaan untuk memberikan kepadaku hari depan yang penuh harapan.

Kemudian saya sampai ke bagian dimana saya harus mempertimbangkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Siapa yang dengan sempurna mengetahui yang terbaik untuk hidup anda?
  • Siapa yang paling mampu melakukan yang terbaik untuk hidup anda?
  • Siapa yang sungguh-sungguh selalu menghendaki yang terbaik bagi hidup anda?

Dan jawabannya cuma satu, yaitu Yesus. BUKAN saya.

Dan yang harus saya lakukan saat ini adalah bertekuk lutut di hadapanNya dan menyerahkan seluruh rencana, masalah, dan beban hidup saya dalam tanganNya. Dia sedang mengusahakan yang terbaik untuk saya. Jadi bersiaplah untuk perkara yang lebih besar, Dwi! Karena kamu berurusan dengan Tuhan.

Yeremia 31  merupakan satu pasal yang kami bahas dalam acara SBT hari Minggu, 24 Mei 2009 kemarin. Kami mengawali SBT ini dengan berdoa, bernyanyi, dan menaikkan syukur bagi Allah. Atas kehidupan kami. Dan segala sesuatu yang Allah biarkan terjadi untuk membuat kami semakin melekat padaNya.

Kemudian kami merenungkan Yeremia 31 sendiri-sendiri. Saya mencatat beberapa janji Tuhan yang diberikan di pasal ini.

  1. Tuhan akan menjadi Allah kaum keluargaku dan aku akan menjadi umatNya.
  2. Tuhan akan mengasihiku dengan kasih yang kekal.
  3. Aku akan memetik hasil dari setiap usahaku.
  4. Tuhan akan menyelamatkanku.
  5. Tuhan akan menghiburkan aku saat aku datang dalam tangisan.
  6. Tuhan akan memimpin jalanku.
  7. Aku akan berseri-seri dan dikenyangkan dengan kebajikan Allah.
  8. Aku akan dicukupkan.
  9. Aku akan bersukaria.
  10. Ada harapan untuk hari depanku.

Saat ini aku masih bergumul tentang keluargaku dan aku sangat bersyukur untuk janjiNya akan membuat kaum keluargaku percaya. Namun aku seringkali lelah dan ingin menyerah karena aku tidak melihat pekerjaan Tuhan disana. Aku sempat berpikir, kemana perginya doa-doa yang kupanjatkan siang dan malam itu? Apakah hanya jadi bisikan harapan yang kemudian menyatu dengan hiruk pikuk dunia dan menjadi tak bermakna lagi. Tapi disini Allah berjanji kalau Ia akan membuatku memetik hasil dari usahaku. Tidak ada doaku yang sia-sia. Aku percaya Allah sudah mengatur segala sesuatunya dan menetapkan waktu terbaik bagiku. Dan bagi keluargaku.

Aku pun masih sering kuatir dengan masa depanku. Aku tidak tahu mau jadi apa aku nanti bahkan di usia ku kini yang sudah mencapai 22 tahun. Terlalu banyak ketakutan akan masa depanku. Tentang pernikahan. Tentang kondisi ekonomi. Tentang karirku. Tentang keluargaku. Tentang anak-anakku. Note : keinginanku untuk punya anak lebih besar dibandingkan dengan keinginanku untuk punya pacar. Tapi keinginan yang besar ini justru memberikan ketakutannya sendiri. Ya.. aku takut sekali tidak bisa punya anak. Tapi kemudian Allah mengatakan bahwa aku akan dicukupkan dan akan bersukaria. Bahwa akan ada harapan untuk hari depanku. Dan bila aku putus asa dan (lagi-lagi) datang dalam tangisan, Allah yang akan menghiburku.

Kemudian aku mencatat tentang siapa aku di mata Allah dari Yeremia 31 ini. Dan ini hasil penemuanku yang luar biasa. Aku mengambil dari ayat 23 yang isinya demikian, “Tuhan kiranya memberkati engkau, hai tempat kediaman kebenaran, hai gunung yang kudus!”

Yup. Aku adalah tempat kediaman kebenaran dan gunung yang kudus. Tempat dimana akan ada kota-kota, petani-petani, dan orang-orang yang mengembara dengan kawanan ternaknya. Aku akan menjadi alat Tuhan untuk membuat segar orang yang lelah, dan memuaskan setiap orang yang merana. Serupa dengan Yesaya 58 yang aku renungkan. Aku adalah individu yang harus dapat diandalkan oleh orang lain. Aku adalah individu yang akan menjadi alat Tuhan untuk memberikan harapan kepada orang lain. Aku harus menjadi tempat bernaung bagi jiwa-jiwa yang haus akan Allah dan terus mencari Allah. Dan aku harus menjadi teladan di dalam Kristus.

SBT berakhir dalam waktu empat jam dan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Hari yang menyenangkan bersama Allah dan teman-teman yang memiliki kerinduan yang besar akan Allah.

Tenanglah kini hatiku Tuhan memimpin langkahku

Di tiap saat dan kerja tetap kurasa tanganNya

Tuhanlah yang membimbingku

Tanganku dipegang teguh

Hatiku berserah penuh

Tanganku dipegang teguh

Lagu yang sangat saya sukai. Hari-hari belakangan ini lagu itu terus menemani saya melalui hal-hal yang terasa berat.

Terima kasih untuk Mba Retno dan saudariku, Sarah, yang sudah sama-sama ber-SBT-an hari Minggu kemarin, 24 Mei 2009. Saya mendapatkan banyak sekali pelajaran. Secepatnya, akan saya rangkum dan tulis di blog ini mengenai apa yang kami pelajari hari Minggu kemarin.

*SBT = Sehari Bersama Tuhan

Menjadi Berkat

Saya suka sekali dengan ayat ini yang terus menemani hari-hari saya,

“Tuhan akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.” Yesaya 58:11

Awalnya saya selalu senang dengan doa yang diucapkan pembimbing rohaniku, Kak Ester, tentang bagaimana kami seharusnya menjadi BERKAT bagi orang-orang sekitar kami. Menjadi berkat berarti menjadi TERANG dan GARAM.

Dan sejak saat itu, saya selalu berdoa agar hidup saya menjadi BERKAT. Lewat kata-kata. Perilaku. Kerja keras. Sukses dan gagal. Bahkan harta.

Tapi berkat yang seperti apa? Hidup seperti apa yang bisa memberkati?

Ayat demi ayat berlalu begitu saja dan membiarkanku menelaah sendiri definisi berkat yang Allah inginkan dalam hidupku. Kemudian aku membuka dan membaca Yesaya 58. Bicara tentang BERPUASA. Dan akhirnya saya memperoleh definisi berkat itu, definisi tentang menjadi TERANG.

Ayat 6, “Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki, ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk,

Ayat 7, “supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

Ayat 8, “Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar…

Ayat 9, “… Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,”

Ayat 10, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan ahti orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

Menjadi terang atau menjadi berkat buatku adalah kepedulian yang tinggi terhadap sesama, tidak menghakimi, tidak egois, dan menyenangkan orang lain.

Kepedulian terhadap sesama dimulai dari kepekaan akan kondisi orang-orang di sekitar kita. Orang yang lapar. Orang miskin yang tak punya rumah. Orang telanjang. Dan banyak sekali orang-orang seperti ini di sekitar kita.

Lapar kebenaran. Selalu kuatir dan ketakutan karena tidak tahu mau meminta perlindungan kemana. Malu akan diri sendiri aka minder. Mereka lah alasan aku diutus Allahku di dunia ini. Supaya aku memerdekakan mereka dari kondisi seperti itu. Kemudian DO SOMETHING! Bukan hanya sampai kepada kepekaan semata dan berakhir dalam doa di malam hari. Tapi berikan solusi. Lewat tindakan-tindakan nyata supaya akhirnya Injil dapat disampaikan. Inilah yang harus dilakukan untuk menjadi berkat. Terangmu akan merekah seperti fajar. Manusia mana tidak terpukau dengan momen matahari terbit? Ya, kita akan menjadi seindah matahari terbit itu.

Tidak menghakimi dan tidak menuduh, terutama untuk aku yang seringkali terlalu cepat ambil kesimpulan. Dalam hal ini aku belajar untuk lebih banyak mendengar daripada bicara. Supaya aku punya banyak fakta dan mengerti pasti kondisi yang ada baru kemudian aku tahu kata yang tepat untuk diucapkan. Berat memang karena lidah ini tak bertulang. Dan jika aku menang dari perkara ini, aku telah menang terhadap mulutku.Karena ternyata yang aku pahami kemudian adalah, mulut yang berhikmatlah yang akan memberkati.

Terakhir adalah tidak egois. Sewaktu kecil, saat aku mau memberikan kado untuk teman yang berulang tahun, aku selalu diajarkan untuk memberikan barang yang sedang ingin aku miliki. Orang tuaku bilang itu namanya memberikan yang terbaik. Tidak egois disini lebih menekankan pada menahan nafsu sendiri dan tidak mementingkan keuntungan diri sendiri. Fokus bukan pada keinginan sendiri tapi pada kebutuhan orang lain.

Menyenangkan orang lain merepresentasikan maksud dari memuaskan hati orang yang tertindas. Inilah letak empati diperlukan. Be a shoulder to cry on. Be humorist. Be solution. Be a friend to anyone who need you.

Maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. Kegelapan yang besar itu akan dikalahkan oleh seorang aku yang lemah ini. Jadi, mari kita berpuasa!

Lalu apa dayaku, orang yang lemah ini?

Mengapa aku yang harus sebegitu peduli dengan orang-orang ini?

Aku juga manusia yang perlu untuk dipedulikan dan diperhatikan.

Inilah kekuatan dari Yesaya 58:11. Allahku berjanji kepadaku untuk membuatku menjadi taman yang diairi dengan baik dan mata air yang tidak pernah mengecewakan.

Allah sudah berjanji menjadi Pribadi yang akan selalu menuntunku, memuaskan hatiku, dan membaharui kekuatanku. Ya, karena Dia lah kekasih jiwaku :) dan memilikiNya dalam hidupku sudah cukup. Dan ayat 12 menunjukkan bahwa aku akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus, yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.” Allah menginginkan aku menjadi solusi bagi orang lain dan menjadi individu yang tidak pernah mengecewakan.