Allah Pasti Mencukupkan

23 Jul

Sore ini aku tertidur di ruang utama. Sebelum mimpi-mimpi itu membawaku lebih jauh, aku terbangun tiba-tiba dengan kehadiran seseorang di ambang pintu. Lagi-lagi aku tidak mengunci pintu saat mau tidur. Mataku buram dan perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan sinar yang ada. Pikiranku yang mengambang entah kemana berlari-lari kecil untuk mengkonvergenkan diri kembali.

“Oh, Kakak…”

Dia adalah seorang kenalan di Gereja yang pernah berencana untuk mengontrak di rumah tempat aku tinggal saat ini, setelah aku dan temanku lulus nanti. Mari kita sebut dia, Kak Lina.

Kakak ini datang dengan maksud untuk bernego dengan kami masalah tinggal di rumah ini. Aku dan temanku memang memutuskan untuk meninggalkan rumah ini di bulan Januari 2010. Berarti terhitung mulai bulan Juli tahun ini, kami hanya akan membayar kontrakan rumah selama 6 bulan saja.

Kakak ini mengajukan ide untuk tetap mengontrak selama satu tahun. Enam bulan pertama untuk kami dan enam bulan kemudian akan ditempati dia dan suaminya. Kami sepakat, waktu itu, kira-kira satu bulan yang lalu.

Aku dan temanku sudah bernegosiasi dengan pemilik rumah mengenai biaya kontrak. Dan akhirnya kami sudah deal dengan harga yang disepakati untuk satu tahun ke depan. Pembayaran akan dilakukan akhir bulan Juli dengan tunai. Setengah dibayar aku dan temanku, setengah lagi dibayar Kak Lina dan suami.

Tapi sore ini, Kak Lina datang dengan suatu masalah. Dia bercerita kepadaku, yang masih bingung karena baru saja terbangun dari tidur siang yang kurang menyenangkan ini, mengenai kondisi keuangannya yang sedang susah. Dia harus terapi saraf, kakaknya membutuhkan uang untuk pembuatan sumur di rumahnya di daerah Sumatera sana, dan nasabah di asuransi tempatnya bekerja belum juga memberikan bayaran. Kakak ini tetap ingin melanjutkan kontrakan rumah ini untuk enam bulan sisanya. Namun ia tidak memiliki cukup uang saat ini untuk bisa membayar biaya yang seharusnya kami serahkan di akhir Juli nanti. Dia hanya mampu membayar sepertiganya. Sisanya, yang dua per tiga lagi, akan dia cicil selama dua bulan kemudian. Tapi apa boleh buat, aku dan temanku tidak punya cukup uang untuk membantunya. Kami bahkan tidak tega meminjam uang orang tua kami karena kami pun harus membayar uang kuliah.

Hati saya sakit. Kalau uang, saya tidak bisa membantu apa-apa. Apalagi saya melihat Kak Lina meninggalkan rumah tadi dengan muka lemas dan tidak bersemangat lagi. Saya sedih karena tidak bisa melakukan sesuatu. Ya Tuhan, kenapa kau tidak perlengkapi aku dengan sesuatu yang bisa membantu Kak Lina untuk meringankan bebannya?

Kembali lagi aku mengalami kekuatiran. Kuatir akan keluarga yang akan kubangun nanti. Apa kami akan berkecukupan? Apa kami akan hidup sulit? Apa kami perlu menjual harta benda untuk bisa memenuhi kebutuhan dari hari ini ke hari selanjutnya? Apa kami perlu berhutang untuk bisa tetap menyekolahkan anak-anak kami nanti? Ya Bapa, kenapa aku harus kuatir tentang materi? Sulit sekali untuk tetap beriman di dunia yang terlihat kejam ini. Di dunia yang terus menuntutku untuk menjadi realistis dan berhati dingin.

Sore ini, beberapa jam setelah Kak Lina meninggalkan rumah kami. Aku membaca buku favoritku, kitab Bapaku, mengenai perkara-perkara besar yang sudah Allah lakukan akan orang-orang pilihanNya. Dan aku memperoleh kekuatan dari 1 Tawarikh 17:27. Suatu doa yang dipanjatkan Daud, salah satu orang pilihan Allah.

“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.”

Aku berdoa saat ini ya Allah, biar Engkau yang hapuskan segala kekuatiranku ini karena berkat itu datang dari Mu. Berkat untuk keluargaku saat ini dan keluargaku di masa depan. Dan apakah yang perlu aku kuatirkan? Karena Kau adalah seorang Bapa yang sayang kepada anak-anakNya, kepadaku. Dan aku mau belajar beriman di tengah-tengah dunia yang sulit ini, kalau Engkau Allah yang akan terus memberkati dan mencukupkan aku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.