Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

24 Nov

Konflik antara anak-anak dan orang tua adalah sesuatu yang wajar terjadi. Mulai dari ribut kecil sampai sakit hati yang dalam dan tidak mengakui sebagai anak lagi. Cerita-cerita tentang anak durhaka, anak pembangkang, dan banyak lagi sudah sering kita dengar dari sejak dulu kala.

Definisi “orang tua” menurut wikipedia yaitu,
Orang tua adalah ayah dan/atau ibu seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, orang tua memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu/ayah dapat diberikan untuk perempuan/pria yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Contohnya adalah pada orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (istri ayah biologis anak) dan ayah tiri (suami ibu biologis anak). Menurut Thamrin Nasution, orang tua merupakan setiap orang yang bertanggung jawab dalam suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.Jika menurut Hurlock, orang tua merupakan orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas orang tua melengkapi dan mempersiapkan anak menuju ke kedewasaan dengan memberikan bimbingan dan pengarahan yang dapat membantu anak dalam menjalani kehidupan. Dalam memberikan bimbingan dan pengarahan pada anak akan berbeda pada masing-masing orang tua kerena setiap keluarga memiliki kondisi-kondisi tertentu yang berbeda corak dan sifatnya antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.

Well, sebagai anak seringkali kita mengharapkan mendapatkan teladan yang ideal dari orang tua. Teladan dalam berbuat baik, dalam hal-hal yang positif, dalam kesuksesan, dalam iman dan spiritual. Tapi apa lah yang ideal di muka bumi ini. Sebagai anak kita pernah melihat orang tua kita berbohong, menyembunyikan sesuatu, boros, bergosip tentang orang lain. Atau beberapa kondisi yang agak berat, kita menyaksikan orang tua kita mabuk-mabukan, kasar, pemalas. Atau kondisi yang sangat berat, seperti mengetahui bahwa orang tua kita ternyata terlibat dalam kasus korupsi, mafia perdagangan narkoba, punya hubungan gelap, dan banyak hal-hal lainnya.

Sebagai catatan, postingan ini tidak bermaksud untuk menggurui teman-teman pembaca hehe. Sesungguhnya postingan ini ditujukan untuk diri saya sendiri, untuk menegur diri saya sendiri, mengingatkan diri saya sendiri. Jadi kalau anda merasa saya terlalu menggurui, percayalah saya sedang bicara dengan alter ego saya.

Kembali ke topik awal, orang tua seringkali mengecewakan. Mereka tidak seideal yang kita bayangkan. Kita menjadi tawar hati dan kehilangan hormat dengan orang tua. Ada kasus-kasus dimana orang tua tidak peduli dengan masa depan anak-anaknya, tidak bertanggung jawab atas kebutuhan anak-anaknya, kebutuhan akan kasih, waktu berkualitas, kebutuhan akan sekolah, kebutuhan untuk disemangati, untuk dihibur dalam kesusahan. Kemudian kita menjadi kurang ajar atau durhaka kata mamak malin kundang, dalam hati kita, kita merasa ini layak mereka rasakan. Toh mereka tidak peduli selama ini, why should I?

Lalu kita merasa berhak menegur mereka dengan keras, memarahi mereka, acuh tak acuh. Di masa tua nya, kita perlakukan mereka bak orang tua tidak berguna, yang hanya bisa menjadi beban bagi anak-anaknya. Kita menjadikan masa lalu yang kurang baik menjadi justifikasi kuat bahwa mereka layak memperoleh perlakuan seperti ini.

Sesungguhnya, ketika dilahirkan kita tidak bisa memilih akan dilahirkan bagaimana, jenis kelamin apa, warna kulit apa, di keluarga seperti apa, di kota mana. Jadi entah di keluarga ideal, atau keluarga tidak ideal, hal itu sepenuhnya adalah kedaulatan Yang Maha Kuasa.

Adalah mudah memang bersyukur dan mengasihi orang tua ketika kita berada di keluarga yang ideal. Ketika ibu selalu ada untuk menghibur, ketika ayah selalu ada untuk menyemangati. Ketika finansial tidak pernah menjadi masalah karena orang tua kita adalah pekerja keras. Ketika liburan menjadi agenda rutin. Ketika ayah dan ibu dengan harmonisnya merayakan hari pernikahan setiap tahun. Tapi jika kita dilahirkan dalam keluarga yang tidak ideal, apakah kemudian hal itu menjadi alasan untuk tidak bersyukur dan tidak mengasihi orang tua? Bagian diri saya mengatakan, YA. Untuk apa bersyukur kalau yang kita peroleh adalah kekecewaan setiap waktu, bagaimana bisa bersyukur?

Namun kebenaran pahit yang harus ditelan adalah perintah ini. Hormatilah ayah dan ibumu. Tanpa terms & condition. Tanpa embel-embel “apabila orang tua kamu adalah orang tua yang baik”, “apabila orang tua kamu adalah orang tua yang beriman”, “apabila orang tua kamu adalah orang tua yang sempurna”.

Hormatilah ayah dan ibumu. Walaupun mereka seakan-akan tidak layak dihormati. Walaupun mereka lebih banyak mengecewakanmu daripada menyenangkanmu. Walaupun mereka sering mengalami kegagalan dalam hidupnya. Gagal dalam membesarkanmu, gagal dalam membina rumah tangga, gagal dalam mengendalikan dirinya sendiri. Hormatilah ayah dan ibumu, seburuk apapun kehidupan yang harus kamu alami, sesulit apapun menerima kenyataan yang terjadi. Satu hal yang layak mereka dapatkan, hormatmu!

Ganti amarahmu dengan kelemahlembutan. Ganti kekecewaanmu dengan pengertian yang besar. Ganti kepahitanmu dengan pengharapan. Ganti rasa bencimu dengan kasih yang tak pernah putus kepada orang tua. Karena satu hal lagi yang mereka layak dapatkan, kasih sayangmu!

honor ur parents

Siapa “Tuhan” Itu?

17 May

Percakapan saya siang ini dengan seorang teman memberikan renungan tersendiri. Memang, saya tergolong tipe yang “nyantai” jika menghadapi orang-orang dengan pandangan yang berbeda tentang keyakinan terhadap Tuhan. Saya tidak pernah memaksakan pemahaman saya dan menghargai sepenuhnya pemahaman mereka. Sering saya bertemu teman-teman yang menganggap konsep tentang Tuhan hanya karangan manusia yang putus asa saja. Atau teman-teman yang percaya adanya Tuhan, tapi yang dia tahu tentang Tuhan semata-mata hanya sosok yang harus dipuja dan puji karena itulah yang dilakukan orang tuanya, nenek moyangnya, para pendahulunya. Atau ada juga yang percaya ada pribadi yang jauh lebih besar dari manusia, yang mengatur hidup manusia, yang mengatur dunia, pribadi yang mulia dan berkuasa, tapi bahkan dia hanya menyebutnya tuhan, tanpa mengenal siapa dan apa tuhan yang dia maksudkan.

Semua teori dan pemahaman ini cukup membuat saya memikirkan tentang tuhan sejak realita kehidupan yang saya hadapi bukan sekedar bagaimana mendapatkan nilai baik di raport sekolah. Saat saya mulai menyadari bahwa hidup terdiri dari banyak benturan antar individu dan kepentingan. Benturan yang menyebabkan konflik. Ada yang menang, ada yang kalah. Ada yang kaya, ada yang miskin. Ada yang beruntung, ada yang malang. Dan yang dilakukan setiap orang adalah berkompetisi untuk menjadi yang menang, yang kaya, yang beruntung.

Saya banyak merenung tentang dua hal besar ini. Tentang tuhan. Dan tentang hidup. Teori-teori dan studi literatur tidak banyak membantu. Justru semakin memperbesar kekosongan di dalam hati dan logika saya.

Sementara saya banyak merenung, dunia tetap berputar dan realita-realita baru terus bermunculan. Realita yang muncul seringkali terasa pahit. Sampai saya memikirkan, apalah hidup ini kalau harus terus merasakan pahit saja. Mungkin sebaiknya hidup tidak perlu ada. Ketiadaan hidup dalam keberadaan ini mungkin bisa meringankan beban sang pencipta jagat raya.

Mungkin saya terlalu sibuk berkompetisi dalam arena pertandingan demi mencapai kenyamanan. Sibuk mengurusi konflik-konflik. Sibuk mengurusi sakit hati. Sibuk mengurusi kegagalan. Sibuk mengurusi rasa kesepian. Sibuk mengurusi rasa mengasihani diri sendiri. Sampai-sampai saya tidak menyadari kenyataan bahwa saya sudah terus berjalan maju. KOnflik yang terselesaikan. Sakit hati yang akhirnya terlupakan. Kegagalan yang sudah berubah jadi kesuksesan gilang gemilang. Hebat sekali saya bisa melewati ini semua.

Saya?? Saya sendiri yang melewati ini?? Melewati sakit hati? Melewati konflik demi konflik? Melewati kegagalan?
Wow! Saya memang hebat!

Sayangnya, jauh di lubuk hati saya, saya menyadari kalau saya terlalu lemah untuk melewatinya seorang diri.

Teman? Keluarga?

Kenyataan pahit yang harus saya terima selanjutnya adalah orang-orang di sekitar saya pun hanya manusia biasa yang juga terlalu lemah untuk bisa membantu saya melewatinya.

Inilah titik dimana saya akhirnya menyadari bahwa manusia tidak hidup sendirian, dengan strategi-strategi mereka yang luar biasa, di dunia yang luas ini. Ada campur tangan pihak lain yang memiliki kuasa lebih besar dan lebih luas. Pihak lain yang akhirnya saya kenal sebagai Raja atas hidup saya.

Mungkin inilah yang mereka-mereka sebut dengan Tuhan. Entahlah! Kata “Tuhan” terlalu abstrak karena semua orang punya teori. Dan Tuhan seperti sosok yang tidak pernah ada di bumi. Tapi saya suka kata “Raja”. Pemimpin. Penguasa. Dia penuh kemuliaan. Dia kaya raya.

Saya mulai memanggilnya dalam lamunan-lamunan saya. Dalam perbincangan khayalan dengan sang Raja. Dan setiap saya melamunkan bahwa saya bersamaNya. Saya merasa aman. Merasa utuh sebagai manusia. Merasa dikasihi. Dia bukan Raja yang hanya tahu mengatur saja. Dia Raja yang tahu persis bagaimana memberi ketenangan. Ini yang membuat saya semakin menikmati lamunan saya denganNya.

Maka saya mengenalNya sebagai Raja yang memiliki kasih sebesar kasih seorang Bapa kepada anakNya.

Saya menangis bersamaNya. Saya merasa hancur di hadapanNya. Atas niat jahat yang sering hadir di pikiran dan hati saya. Merasakan penyesalan yang dalam atas kelemahan saya mengalahkan niat jahat yang akhirnya berwujud dalam tindakan saya yang tidak terpuji. Dan inilah kekuatan kasih yang tidak seorang manusia pun mampu berikan. Saya bangkit dari lamunan-lamnunan saya dan memperoleh kekuatan untuk menghadapi kepahitan dan trauma karena sang Raja berjanji akan mengubahnya menjadi sukacita.

Mungkin benar bahwa konsep Tuhan hanya untuk mereka yang sudah putus asa. Tapi saya tidak peduli. Saya akhirnya menemukanNya, menemukan seorang Raja dengan kasih seperti seorang Bapa, dan itulah konsep Tuhan untuk saya. Saya merasa sang Raja memenuhi kekosongan di hati saya, di logika saya. Mungkin saya gila. Saya juga tidak tahu.

Kenyataan pahit berikutnya adalah saya tidak pernah berusaha untuk menemukanNya. Saya memang mempertanyakan eksistensinya, tapi bahkan tidak terlalu peduli jika pun Dia benar-benar ada. Tapi Dia yang terus berusaha menyadarkan saya bahwa Dia ada dalam hidup saya. Hal-hal buruk yang diubah jadi baik adalah bukti nyata. Dan itu semua terlalu nyata untuk saya.

Tulisan ini bisa saja membuat yang membaca semakin bingung dan bahkan menimbulkan kontroversi. Tulisan ini bisa saja tidak membantu siapa pun yang membaca untuk menemukan sang Raja dengan kasih sebesar seorang Bapa itu. Tapi Dia benar-benar ada. Kamu hanya perlu merendahkan diri dan melihatNya dengan mata iman. Dia nyata di hidup saya. Dia nyata di tiap lamunan saya. Dia nyata mengisi kekosongan hati dan logika saya.

“He is real! He is not just in my imagination or not just someone I don’t know who always I call in my prayer. I know Him and He knows me more. He cares also. How can I not love Him more?”

Allah yang Setia

7 Jan

Sekarang ku memuji-Mu, Allah yang setia. Allah yang tidak pernah meninggalkan perbuatan tangan-Nya.

Sekarang ku menyembah-Mu, Allah yang mulia. Ya Allah, sempurnakan segenap hidupku agar menjadi indah bagi-Mu.

Engkau adalah pribadi yang Setia! Hanya itu kekuatanku saat ini.

2 Timotius 2:13.

Allah Pasti Mencukupkan

23 Jul

Sore ini aku tertidur di ruang utama. Sebelum mimpi-mimpi itu membawaku lebih jauh, aku terbangun tiba-tiba dengan kehadiran seseorang di ambang pintu. Lagi-lagi aku tidak mengunci pintu saat mau tidur. Mataku buram dan perlahan-lahan menyesuaikan diri dengan sinar yang ada. Pikiranku yang mengambang entah kemana berlari-lari kecil untuk mengkonvergenkan diri kembali.

“Oh, Kakak…”

Dia adalah seorang kenalan di Gereja yang pernah berencana untuk mengontrak di rumah tempat aku tinggal saat ini, setelah aku dan temanku lulus nanti. Mari kita sebut dia, Kak Lina.

Kakak ini datang dengan maksud untuk bernego dengan kami masalah tinggal di rumah ini. Aku dan temanku memang memutuskan untuk meninggalkan rumah ini di bulan Januari 2010. Berarti terhitung mulai bulan Juli tahun ini, kami hanya akan membayar kontrakan rumah selama 6 bulan saja.

Kakak ini mengajukan ide untuk tetap mengontrak selama satu tahun. Enam bulan pertama untuk kami dan enam bulan kemudian akan ditempati dia dan suaminya. Kami sepakat, waktu itu, kira-kira satu bulan yang lalu.

Aku dan temanku sudah bernegosiasi dengan pemilik rumah mengenai biaya kontrak. Dan akhirnya kami sudah deal dengan harga yang disepakati untuk satu tahun ke depan. Pembayaran akan dilakukan akhir bulan Juli dengan tunai. Setengah dibayar aku dan temanku, setengah lagi dibayar Kak Lina dan suami.

Tapi sore ini, Kak Lina datang dengan suatu masalah. Dia bercerita kepadaku, yang masih bingung karena baru saja terbangun dari tidur siang yang kurang menyenangkan ini, mengenai kondisi keuangannya yang sedang susah. Dia harus terapi saraf, kakaknya membutuhkan uang untuk pembuatan sumur di rumahnya di daerah Sumatera sana, dan nasabah di asuransi tempatnya bekerja belum juga memberikan bayaran. Kakak ini tetap ingin melanjutkan kontrakan rumah ini untuk enam bulan sisanya. Namun ia tidak memiliki cukup uang saat ini untuk bisa membayar biaya yang seharusnya kami serahkan di akhir Juli nanti. Dia hanya mampu membayar sepertiganya. Sisanya, yang dua per tiga lagi, akan dia cicil selama dua bulan kemudian. Tapi apa boleh buat, aku dan temanku tidak punya cukup uang untuk membantunya. Kami bahkan tidak tega meminjam uang orang tua kami karena kami pun harus membayar uang kuliah.

Hati saya sakit. Kalau uang, saya tidak bisa membantu apa-apa. Apalagi saya melihat Kak Lina meninggalkan rumah tadi dengan muka lemas dan tidak bersemangat lagi. Saya sedih karena tidak bisa melakukan sesuatu. Ya Tuhan, kenapa kau tidak perlengkapi aku dengan sesuatu yang bisa membantu Kak Lina untuk meringankan bebannya?

Kembali lagi aku mengalami kekuatiran. Kuatir akan keluarga yang akan kubangun nanti. Apa kami akan berkecukupan? Apa kami akan hidup sulit? Apa kami perlu menjual harta benda untuk bisa memenuhi kebutuhan dari hari ini ke hari selanjutnya? Apa kami perlu berhutang untuk bisa tetap menyekolahkan anak-anak kami nanti? Ya Bapa, kenapa aku harus kuatir tentang materi? Sulit sekali untuk tetap beriman di dunia yang terlihat kejam ini. Di dunia yang terus menuntutku untuk menjadi realistis dan berhati dingin.

Sore ini, beberapa jam setelah Kak Lina meninggalkan rumah kami. Aku membaca buku favoritku, kitab Bapaku, mengenai perkara-perkara besar yang sudah Allah lakukan akan orang-orang pilihanNya. Dan aku memperoleh kekuatan dari 1 Tawarikh 17:27. Suatu doa yang dipanjatkan Daud, salah satu orang pilihan Allah.

“Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada di hadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab apa yang Engkau berkati, ya TUHAN, diberkati untuk selama-lamanya.”

Aku berdoa saat ini ya Allah, biar Engkau yang hapuskan segala kekuatiranku ini karena berkat itu datang dari Mu. Berkat untuk keluargaku saat ini dan keluargaku di masa depan. Dan apakah yang perlu aku kuatirkan? Karena Kau adalah seorang Bapa yang sayang kepada anak-anakNya, kepadaku. Dan aku mau belajar beriman di tengah-tengah dunia yang sulit ini, kalau Engkau Allah yang akan terus memberkati dan mencukupkan aku, sekarang dan selama-lamanya. Amin.

Ketuhanan Kristus

14 Jun

Baru kali ini saya mengisi buku PA sampai keluar air mata, menarik nafas panjang berkali-kali, sambil terus mempertanyakan, “Kemana aja selama ini Dwi?” Sudah empat adik rohani yang Allah percayakan. Sudah selama tiga tahun ini saya menjadi mentor di Penerimaan Mahasiswa Baru, konselor di perayaan Paskah dan Natal. Dan saya baru betul-betul memahami tentang Ketuhanan Kristus. How stupid I am!!

Dan baru kali ini juga saya memahami apa yang dimaksud “Hidup adalah Kristus.”

Yesuslah Tuhan. Yesuslah Kristus. Kristus lah hidup itu sendiri. Dialah pusat dari segalanya di alam semesta ini. Dia lah Guru. Raja segala raja. Tuan segala tuan. Pencipta. Hakim, Superior! Dia lah yang disebut dengan MAHA…

Di bagian “Akui Ketuhanannya Dengan Keputusan Anda” terdapat bahan perenungan sebagai berikut.

Berilah tanda untuk hal-hal di bawah ini yang berlaku bagi Anda. Dan inilah hal-hal yang masih sering saya pikir dan rasakan,

  • bahwa Yesus tidak benar-benar mengerti persoalan saya
  • bahwa Yesus mungkin menghendaki agar saya melakukan sesuatu yang tidak dapat saya kerjakan
  • bahwa Yesus mungkin menghendaki agar saya memegang suatu karier yang tidak dapat saya nikmati
  • bahwa Yesus akan menghalangi saya untuk menikah
  • bahwa Ia akan merampas kesenangan saya untuk menikmati milik, kegemaran, atau hubungan dengan teman-teman

Kemudian ada beberapa pernyataan yang dipakai untuk memeriksa hati saya. Dan inilah hal-hal yang masih berlaku pada saya.

  • saya tahu apa yang harus saya lakukan dan apa yang terbaik untuk saya.
  • saya masih tidak yakin apakah Yesus sedang mengusahakan yang terbaik untuk saya
  • saya curiga bahwa Yesus meminta saya melakukan apa yang saya tidak inginkan
  • saya akan menyerahkan bidang-bidang kehidupan saya pada Yesus kecuali bidang tertentu
  • saya kuatir jika saya membuat penyerahan maka Yesus akan mengambil semua yang ada pada saya

Betapa banyak kekuatiran saya akan hidup ini. Setelah begitu banyak janji-janji Allah yang saya renungkan, ternyata masih saja ada rasa takut kalau saya akan menemukan kegagalan dan kesedihan di depan sana. Dan baru kali ini Yeremia 29:11 terdengar sangat nyaring dan bergema sampai ke hati saya. Bahwa rancangan yang Allah sediakan adalah damai sejahtera BUKAN kecelakaan untuk memberikan kepadaku hari depan yang penuh harapan.

Kemudian saya sampai ke bagian dimana saya harus mempertimbangkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan berikut.

  • Siapa yang dengan sempurna mengetahui yang terbaik untuk hidup anda?
  • Siapa yang paling mampu melakukan yang terbaik untuk hidup anda?
  • Siapa yang sungguh-sungguh selalu menghendaki yang terbaik bagi hidup anda?

Dan jawabannya cuma satu, yaitu Yesus. BUKAN saya.

Dan yang harus saya lakukan saat ini adalah bertekuk lutut di hadapanNya dan menyerahkan seluruh rencana, masalah, dan beban hidup saya dalam tanganNya. Dia sedang mengusahakan yang terbaik untuk saya. Jadi bersiaplah untuk perkara yang lebih besar, Dwi! Karena kamu berurusan dengan Tuhan.